Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Indonesia Perisai Diri lahir dari semangat pelestarian budaya. Pak Dirdjo, putra pertama Raden Mas Pakoesoedirdjo, tumbuh di lingkungan Pura Pakualaman Yogyakarta dengan bakat silat yang luar biasa sejak kecil.

Silsilah Bangsawan

Pak Dirdjo adalah canggah (cucu buyut) dari Paku Alam II. Beliau merupakan murid dari Kyai Soelaiman Zaenuddin Abdurrahman, ulama resmi Pura Paku Alam.

Setelah menempuh pendidikan di HIK pada 1930, beliau berkelana mendalami silat dengan prinsip niteni, nirokake, dan nambahi. Perjalanan pengembaraannya dimulai dari Jombang, Solo, Semarang, hingga Cirebon.

Puncak Ilmu: Siauw Liem Sie

Salah satu momen krusial adalah saat beliau berguru pada Yap Kie San, pendekar Tionghoa beraliran Siauw Liem Sie. Dari seluruh muridnya, hanya dua orang non-Tionghoa yang berhasil mencapai puncak latihan, salah satunya adalah Pak Dirdjo.

Ciri Khas Teknik

Cepat, Tepat, dan Deras. Prinsip: Satu Detik Dua Gerak.

Pendobrakan Tradisi Tabu

Pak Dirdjo meluncurkan buku teknik silat (Burung Kuntul, Garuda, Harimau) pada 1977. Ini adalah langkah revolusioner karena pada masa itu teknik silat dianggap rahasia dan tabu untuk dibuka ke publik.

Warisan & Kebulatan Tekad

Pak Dirdjo wafat pada 9 Mei 1983. Di depan jenazahnya, para murid membacakan Ikrar Kebulatan Tekad untuk menjaga persatuan dan melestarikan ajaran beliau.

5 Poin Kebulatan Tekad
  • Meneruskan perjuangan pelestarian silat nasional.
  • Memperkokoh persatuan antar aliran silat.
  • Menjalin persahabatan internasional.
  • Setia kepada asas dan tujuan perguruan.
  • Mendahulukan kepentingan negara di atas pribadi.