Kelatnas Indonesia Perisai Diri

Biografi & Perjalanan Perguruan

Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Indonesia Perisai Diri didirikan pada tanggal 2 Juli 1955 di Surabaya oleh Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo, atau yang lebih akrab dipanggil sebagai Pak Dirdjo oleh para muridnya. Pak Dirdjo dilahirkan pada hari Selasa Legi 28 bulan Sura Tahun Alip 1843 atau tanggal 7 Januari 1913 di dalam lingkungan Pura Pakualaman Yogyakarta. Ia merupakan putra pertama dari Raden Mas Pakoesoedirdjo yang masih termasuk buyut dari Paku Alam II.

Dalam silsilah keluarga, Pak Dirdjo adalah canggah (cucu buyut) dari Paku Alam II. Urutannya sebagai berikut: Paku Alam II mempunyai putra Gusti Pangeran Harya (GPH) Nataningprang, yang memiliki putra Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Pakoeningprang, yang memiliki putra Raden Mas Pakoesoedirdjo. RM Pakoesudirdjo memiliki tiga anak. Mereka adalah RMS Dirdjoatmodjo, RAy Dirdjasuwarna (nama kecil: RA Sabandinah), dan RAy Hardjadigdaja. Semenjak kecil, Soebandiman, nama akrab Pak Dirdjo di dalam lingkungan Pura Paku Alam, sudah menunjukkan bakat dalam ilmu silat. Hal ini menarik minat Kyai Soelaiman Zaenuddin Abdurrahman, satu-satunya ulama resmi di lingkungan Pura Paku Alam pada masa itu, untuk mengambil Dirdjo kecil sebagai muridnya.

Seiring dengan kemajuan bersilatnya, Kyai Zaenuddin yang saat itu makin lanjut usia, mengutus Dirdjo muda untuk menambah kemampuan olah kanuragannya ke kedua kakak seperguruannya, yaitu RM Soerjopranoto dan RM Soewardi Soerjaningrat (yang kemudian hari lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara): Kedua pendekar kakak seperguruan Dirdjo muda ini pada masa itu dikenal sebagai “Dua Berandal Pura”, karena mereka sering kali berlawanan dengan sinyo-sinyo Belanda yang berperilaku sewenang-wenang terhadap para kawula alit.

Dirdjo muda mengawali melatih silat di kalangan keluarga Pakualaman. Murid pertamanya adalah RM Hartono Soerjopratiknjo, putera pasangan Raden Mas Ngabehi Projopratiknjo dan Raden Ayu (RAy) Soewardinah. Selain Hartono ada lagi tiga temannya yang ikut bergabung. Mereka adalah Danardojo, Suwardan, dan Sumardi. Raden Ayu Soewardinah adalah putri dari Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Soerjaningrat (Suryaningrat) yang merupakan putra dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Surya Sasraningrat (Paku Alam III), raja Kadipaten Pakualaman. Pangeran Suryaningrat memiliki tiga anak yaitu Raden Mas Soerjopranoto (Suryopranoto), Raden Ayu Soewardinah, dan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian hari lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Pengembaraan Menimba Ilmu

Selepas Dirdjo menyelesaikan pendidikannya di Hollandsch Inlandsche Kweekschool (HIK-sekolah pendidikan guru setingkat SMP pada masa itu) pada tahun 1930, ia memutuskan untuk berkelana guna memperdalam ilmu silatnya dengan bekal ajaran Ki Hadjar Dewantara yaitu niteni (mengamati), nirokake (meniru), dan nambahi (menambahkan). Ia mencari tambahan ilmu dimulai dengan berjalan ke arah timur, menuju ke daerah Jombang, Jawa Timur, dengan tujuan utama belajar silat pada Bapak Hasan Basri dan belajar ilmu agama di Pesantren Tebu Ireng.

Setelah melalui semua gemblengan keras dan merasa cukup, ia kembali berjalan ke arah barat menuju ke kota Solo. Dj kota tersebut, ia berguru pada Bapak Sayid Sahab dan juga memperdalam ilmu kanuragan pada Ki Djogosurasmo yang masih terhitung kakeknya sendiri. Selama berguru di Solo, Dirdjo muda mendengar kabar tentang adanya seorang pendekar beraliran Setia Saudara di Semarang. Pada akhirnya ia berhasil bertemu Bapak Soegito di Semarang dan mendapat tambahan ilmu silat darinya. Selama tinggal di Semarang ia juga berkesempatan menimba ilmu agama dan juga silat di Pondok Randu Gunting hingga beberapa waktu lamanya.

Meskipun telah berkelana dan berguru pada banyak pendekar hingga ke Jawa Timur, Dirjo merasa ilmunya masih belum cukup. Hal ini menggiringnya kembali melangkahkan kakinya ke arah barat, menuju ke Cirebon, daerah yang pada masa itu terkenal sebagai gudang pendekar silat dan ilmu kanuragan. Perjalanan ini menuntunnya melalui daerah Kuningan dan akhirnya tiba di Cirebon. Di dua kota tersebut ia kembali dengan tidak bosan-bosannya menambah kemampuan silat dan kanuragan dari para pendekar setempat.

"Setelah melalui semua proses dengan berkelana, akhirnya ia mulai berpikir untuk berbagi ilmu silat dan kanuragan yang telah dipelajarinya selama ini. Pemuda ini untuk pertama kalinya mulai meramu aliran silatnya sendiri."

Ia memiliki keyakinan bahwa seseorang yang menimba ilmu dari berbagai aliran ilmu dan guru dengan didasari niat dan tujuan yang baik, maka Tuhan Yang Maha Esa akan menuntun yang bersangkutan ke arah cita-citanya. Hal ini diwujudkan dengan langkah mendirikan perguruan silat yang diberi nama Eka Kalbu pada tahun 1936 di Banyumas. Perguruan silat baru ini ternyata mampu menarik perhatian para pemuda di daerah tersebut hingga mendapatkan murid cukup banyak.

Seiring dengan perjalanan Pak Dirdjo dari timur hingga barat Pulau Jawa, di Yogyakarta juga terjadi perkembangan silat yang sangat positif. Pada tahun 1937, atas perintah Ki Hajar Dewantara berdiri Persatuan Pencak Taman Siswa di Perguruan Taman Siswa dengan pengajar utama Ki Mochammad Djoemali. Sebagai paman, Ki Hajar Dewantara yang pada waktu akan berangkat ke negeri Belanda, memanggil Dirdjoatmodjo untuk pulang ke Yogyakarta membantu melatih silat di Taman Siswa bersama-sama dengan Mochammad Djoemali. Di tengah kesibukannya mengajar silat di Taman Siswa, Dirdjo mendapatkan pekerjaan sebagai Magazijn Meester (Kepala Gudang Persediaan) di Pabrik Gula Pleret, Bantul.

Pertemuan dengan Yap Kie San

Dalam perjalanan hidupnya, Dirdjo muda bertemu dengan Yap Kie San, seorang pendekar Tionghoa yang beraliran beladiri Siauw Liem Sie. Yap Kie San adalah salah seorang cucu murid Louw Djing Tie, dari Hoo Tik Tjay alias Bah Suthur. Louw Djing Tie yang dijuluki sebagai Si Garuda Emas dari Siauw Liem Pay merupakan seorang pendekar legendaris pembawa beladiri kungfu dari Tiongkok ke Indonesia. Ia diterima sebagai murid Yap Kie San bukan dengan cara biasa, namun melalui suatu pertarungan persahabatan dengan murid Yap Kie San lainnya.

Setelah melihat bakat dan tekad pemuda Dirdjo, Yap Kie San tergerak hatinya untuk menerimanya sebagai murid. Ia dengan tekun menjalani semua gemblengan dan ujian dari Yap Kie San, sehingga pada akhirnya berhasil mencapai puncak latihan ilmu silat dari aliran Siauw Liem Sie. Ini merupakan suatu prestasi yang luar biasa, karena dari semua murid Yap Kie San hanya enam orang yang sanggup bertahan hingga puncak, dan di antaranya hanya dua orang yang bukan orang Tionghoa, yaitu RM. Dirdjoatmodjo dan R. Brotosoetarjo yang di kemudian hari mendirikan Perguruan Silat Bima (Budaya Indonesia Mataram).

Dengan bekal ilmu yang dikuasai selama berlatih, Pak Dirdjo mulai meramu ilmu silat yang telah dikuasainya menjadi ilmu beladiri baru. Inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya teknik silat dalam Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Indonesia Perisai Diri. Pada tahun 1947, Pak Dirdjo diangkat menjadi pegawai negeri pada Departemen Pengajaran, Seksi Pencak Silat di Yogyakarta. Pada awal mulanya silat ini dikenal dengan sebutan Silat Pak Dirdjo.

Awal Mula Berdirinya Silat Perisai Diri

Tahun 1954 Pak Dirdjo dipindahtugaskan ke Surabaya. Di sana ia meneruskan melatih silat. Dengan dibantu Pak Imam Ramelan, Pak Dirdjo memulai latihan silat di rumah dinasnya di Jalan Mayangkara, Surabaya. Dari tempat latihan di Mayangkara inilah perkembangan Silat Perisai Diri dimulai dan kemudian pindah ke Jalan Wijayakusuma. Di tempat inilah Pak Dirdjo dengan dibantu Pak Imam Ramelan mengadakan kursus pencak silat yang menandai berdirinya Silat Perisai Diri pada 2 Juli 1955.

Teknik silat yang diajarkan adalah gabungan dari berbagai teknik bela diri yang ada di Indonesia. Ciri khas silat Perisai Diri adalah mengutamakan sifat cepat, tepat, dan deras. Oleh sebab itulah setiap pesilat diwajibkan mampu melakukan minimal dua gerakan dalam satu detik yang kemudian disebut “Satu Detik Dua Gerak”. Sementara Pak Dirdjo juga menekankan para muridnya untuk selalu mengasah diri agar menjadi pesilat yang mumpuni. Mampu menghindari dan melumpuhkan setiap serangan. Karena itulah Perisai Diri memiliki motto “Pandai Silat Tanpa Cedera”.

Nama “Keluarga Silat Perisai Diri” dimunculkan pada saat musyawarah besar pada tahun 1963 di Surabaya (Munas III). Nama ini kemudian diubah menjadi “Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri” pada saat musyawarah besar tahun 1969 (Munas VIII), dan pada tahun itu juga disahkan seragam latihan khas yang semula berwarna hitam menjadi berwarna putih.

Kiprah Kelatnas Perisai Diri makin meluas hingga ke mancanegara seperti Belanda, Australia, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, hingga Timor Leste. Perkembangan yang pesat ini disebabkan karena peminatnya melingkupi berbagai kalangan, bukan sekadar pelajar namun meluas ke kalangan pekerja, pegawai negeri, hingga militer.

Mendobrak Tradisi Tabu

Kepastian langkah Pak Dirdjo mengembangkan silat juga dibuktikan dengan keberaniannya mendobrak tradisi tabu. Teknik silat bukan rahasia yang harus disembunyikan. Agar silat mudah dipelajari setiap orang, maka teknik itu harus ditunjukkan lewat latihan secara terbuka maupun dengan buku. Pada tahun 1977 Pak Dirdjo meluncurkan karya-karya tulisnya dalam teknik silat Burung Kuntul, Burung Garuda, dan Harimau.

Lewat karyanya yang dibukukan, Pak Dirdjo ingin membuktikan bahwa ilmu silat adalah warisan budaya Bangsa Indonesia yang mampu bersaing dengan ilmu beladiri asing lainnya. Jangan sampai silat tidak berkembang karena terkungkung tradisi tabu dan ketradisionalannya. Kini, istilah tendangan Sabit, tendangan T, dan sapuan telah diadopsi luas di kancah persilatan nasional.

Kebulatan Tekad

Manusia tidak akan pernah menang melawan Sang Waktu sesuai kehendak Illahi. Di Surabaya, pada tanggal 9 Mei 1983, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo berpulang menghadap Allah SWT. Para murid beliau kemudian membuat ikrar Kebulatan Tekad pada 10 Mei 1983:

Atas jasa-jasanya mengembangkan budaya beladiri silat, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar “Pendekar Purna Utama" kepada Pak Dirdjo pada tahun 1986.